Dakwah

10 Kaidah dalam Tazkiyatun Nufus

7 Oktober 2026 Administrator DKM 70 dibaca
10-kaidah

Jiwa manusia yang memiliki dua sisi (yaitu baik dan buruk), sangatlah penting dan urgen untuk diperhatikan. Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sejumlah makhluk-Nya yang agung, yang menunjukkan keagungan-Nya dalam surat Asy-Syams, bahwasanya di sana ada jiwa yang beruntung dan ada jiwa yang tidak beruntung,

وَالشَّمْسِ وَضُحاها (1) وَالْقَمَرِ إِذا تَلاها (2) وَالنَّهارِ إِذا جَلاَّها (3) وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها (4) وَالسَّماءِ وَما بَناها (5) وَالْأَرْضِ وَما طَحاها (6) وَنَفْسٍ وَما سَوَّاها (7) فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها (9) وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها (10)

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 1-10)

Allah Ta’ala
berfirman sebagaimana ayat di atas,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها

“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”

Allah Ta’ala
juga berfirman,

وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها

“Dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Dalam ayat di atas,
Allah ﷻ bersumpah dalam beberapa ayat, menunjukkan keagungan hal yang
dijelaskan, maka Penyucian jiwa merupakan hal yang sangat penting.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaaid hal. 178 berkata, 
Jiwa yang mulia, tidaklah ridha terhadap sesuatu, kecuali terhadap sesuatu yang
paling tinggi, paling mulia dan paling terpuji (paling baik) hasil akhirnya.
Adapun jiwa yang rendah, dia hanya berputar di sekeliling perkara yang hina,
dia menghampiri perkara hina itu sebagaimana lalat menghinggapi kotoran. Jiwa
yang mulia dan tinggi, tidak akan ridha terhadap tindak kedzaliman, hal yang
vulgar, pencurian, dan pengkhianatan, karena jiwanya lebih besar dan lebih
mulia dari itu semua. Sedangkan jiwa yang hina dan rendah, berkebalikan dengan
hal itu. Maka setiap jiwa akan cenderung kepada sesuatu yang selaras dan sesuai
dengannya.

Kaidah pertama: Tauhid adalah kunci pokok penyucian jiwa

Sesungguhnya, tauhid adalah tujuan Allah Ta’ala ketika menciptakan
kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ
إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah
aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
 (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)

Tauhid juga
merupakan poros dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ
أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh
Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat untuk (menyerukan), “Sembahlah
Allah saja dan jauhilah thaghut.“
 (QS. An-Nahl
[16]: 36)

Tauhid adalah kewajiban
pertama yang harus dilaksanakan manusia agar masuk ke dalam agama Islam.
Demikian pula, tauhid adalah materi pertama yang wajib diajarkan oleh para juru
dakwah. Hal ini sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman,

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ
أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا
اللَّهَ تَعَالَى

“Sesungguhnya
Engkau akan berdakwah kepada sebuah kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah
perkara pertama kali yang Engkau serukan adalah agar mereka menauhidkan Allah
Ta’ala.”
 (HR. Bukhari no. 7372)

Dan sungguh
Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak menyucikan jiwanya dengan
tauhid dan iman bahwa mereka akan diadzab dengan pedih pada hari kiamat. Allah
Ta’ala berfirman,

وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ؛
الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

“Dan
celakalah orang-orang musyrik. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan
az-zakat dan mereka ingkar (kafir) akan adanya (kehidupan) akhirat.“
 (QS. Fushshilat [41]: 6-7)

Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata menjelaskan tafsir ayat tersebut,

وهي التوحيد والإيمان الذي به يزكو
القلب فإنه يتضمن نفي إلهية ما سوى الحق من القلب وإثبات إلهية الحق في القلب وهو
حقيقة لا إله إلا الله . وهذا أصل ما تزكو به القلوب

“Az-Zakah
pada ayat di atas adalah tauhid dan iman, yang dengannya, jiwa menjadi bersih.
Tauhid mengandung makna menafikan hak uluhiyyah dari selain Al-Haq (Allah
Ta’ala) dari dalam hati, dan menetapkan hak uluhiyyah bagi Al-Haq (Allah
Ta’ala) di dalam hati. Inilah hakikat dari kalimat tauhid, laa ilaaha illallah.
Dan inilah pokok yang dapat menyucikan jiwa.”
 (Majmuu’
Al-Fataawa, 10: 97)

Ibnul Qayyim
rahimahullahu Ta’ala berkata,

قال أكثر المفسرين من السلف ومن
بعدهم : هي التوحيد : شهادة أن لا إله إلا الله والإيمان الذي به يزكو القلب … وهو
أصل كل زكاة ونماء …

“Mayoritas
ahli tafsir dari kalangan salaf dan setelahnya berkata, “Az-Zakah pada ayat
tersebut berarti tauhid, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan iman, yang
dengannya hati menjadi bersih … Tauhid adalah sumber dari segala pertambahan
dan peningkatan kebaikan… “
 (Ighaatstaul
Lahfaan, 1: 79)

Sebagaimana
tauhid adalah pokok penyucian dan pembersihan jiwa, maka kesyirikan adalah
perkara yang paling mengotori dan merusak jiwa manusia. Bahkan, kesyirikan akan
menghapus seluruh amalan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu,
’Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang-orang yang merugi.’”
 (QS.
Az-Zumar [39]: 65)

Kaidah kedua:
Doa adalah kunci penyucian jiwa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى
اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada
sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa.”
 (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dinilai shahih
oleh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5392)

Doa merupakan
salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, karena di dalamnya
terkandung sikap menampakkan kelemahan, kefakiran, perendahan diri, hati yang
luluh dan pengakuan terhadap kekuatan; kekuasaan; kekayaan dan kemampuan-Nya
mengayakan; serta kebesaran-Nya. Bahkan bagi musuh-musuh-Nya (orang musyrik dan
kafir), doa adalah solusi atas keputusasaan mereka, apalagi bagi para kekasih
dan wali-Nya yang mulia. (Mirqaatul Mafaatih Syarh Misykaatul Mashaabih, 4:
1527)

Doa memiliki
berpengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana perkataan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’la ketika berwasiat kepada Abul
Qasim Al-Maghribi,

الدعاء مفتاح كل خير

“Doa adalah
kunci semua kebaikan.”
 (Majmuu’ Al-Fataawa,
10: 661)

Semua kebaikan
yang Engkau harapkan dan inginkan, baik berupa kebaikan di dunia dan di akhirat,
maka mintalah kepada Allah Ta’ala, bersandarlah kepada-Nya dalam meraih dan
mewujudkannya.

Allah Ta’ala
telah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dan menyandarkan
diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي
أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabb
kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.”
 (QS. Ghafir [40]: 60)

Amirul mukminin
‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم
الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه

“Sungguh aku
tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting
bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham
(taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.”
 (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan
oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)

Diriwayatkan
dari Mutharrif bin Asy-Syikhir, beliau berkata,

تَذَكَّرْتُ مَا جِمَاعُ الْخَيْرِ
فَإِذَا الْخَيْرُ كَثِيرٌ: الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ وَإِذَا هُوَ فِي يَدِ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا أَنْتَ لَا تَقْدِرُ عَلَى مَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ إِلَّا أَنْ تَسْأَلَهُ فَيُعْطِيَكَ، فَإِذَا جِمَاعُ الْخَيْرِ
الدُّعَاءُ

“Aku
merenungkan apakah pokok segala kebaikan, ternyata kebaikan itu banyak.
Kebaikan itu mencakup shalat dan puasa, yang urusannya berada di tangan Allah
‘Azza wa Jalla. Apabila ternyata engkau tidak mampu melakukan hal yang berada
di tangan Allah, kecuali setelah memohon kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya
kepadamu, maka hal itu berarti pokok segala kebaikan itu adalah doa.”
 (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1344)

Dalam bab
“At-Tazkiyah”, telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau
berkata dalam doanya,

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah,
berikanlah diriku ketakwaan, sucikanlah, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat
yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan menjaganya.“
 (HR. Muslim no. 2722)

Dalam doa ini
terdapat isyarat dan peringatan bahwa penyucian jiwa itu ada di tangan Allah,
Dzat Yang mengetahui hal yang ghaib. Sedangkan kunci pembukanya yang agung
adalah doa dan merasa butuh di hadapan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa,

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ
قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat
Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
 (HR. Tirmidzi no. 2140, shahih)

Ketika hamba
memfokuskan hati; jujur dengan kebutuhan dan kekurangannya, kuat rasa harapnya,
tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan, dan mencari waktu-waktu berdo’a yang
utama, niscaya mustahil doanya ditolak.

Faktor terbesar
yang dapat membantu kita untuk berdoa adalah menyadari bahwa kesucian jiwa kita
terletak di tangan Allah Ta’ala. Allah-lah Dzat yang membersihkan jiwa siapa
saja yang Dia kehendaki. Semua urusan adalah milik Allah Ta’ala dan berada di
bawah kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

“Sebenarnya
Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.”
 (QS. An-Nisa’ [4]: 49)

Allah Ta’ala
berfirman,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي
مَنْ يَشَاءُ

“Sekiranya
tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.“
 (QS. An-Nuur [24]: 21)

Kaidah
ketiga: Al-Qur’an Al-Karim adalah sumber mata air penyucian jiwa

Allah Ta’ala
berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو
عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.”
 (QS.
Ali ‘Imran [3]: 164)

Al-Qur’an adalah
sarana terbesar untuk menyucikan jiwa. Al-Qur’an adalah kitab penyucian jiwa
yang menjadi sumber dan mata air penyucian jiwa. Barangsiapa yang menginginkan
kesucian jiwa, hendaklah mencarinya dalam Al-Qur’an.

Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma berkata,

ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنِ اتَّبَعَ
الْقُرْآنَ أَنْ لَا يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا وَلَا يَشْقَى فِي الْآخِرَةِ» ،
ثُمَّ تَلَا: ” {فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}

“Allah
menjamin bagi orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an bahwa dia tidak akan
tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian Ibnu ‘Abbas
membacakan ayat (yang artinya), “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia
tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
 (QS.
Thaha [20]: 123)” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35926)

Allah Ta’ala
berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ
جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى
وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia,
sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi
penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman.”
 (QS. Yunus [10]:
57)

Ibnul Qayyim
rahimahullahu Ta’ala berkata,

فَالْقُرْآنُ هُوَ الشّفَاءُ التّامّ
مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيّةِ وَالْبَدَنِيّةِ وَأَدْوَاءِ الدّنْيَا
وَالْآخِرَةِ

“Al-Qur’an
adalah obat yang paling sempurna untuk seluruh penyakit hati dan jasmani; serta
untuk penyakit dunia dan akhirat.”
 (Zaadul
Ma’aad, 4: 119)

Allah Ta’ala
berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ
يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

“Orang-orang
yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan
yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.”
 (QS.
Al-Baqarah [2]: 121)

Yang dimaksud
dengan “bacaan yang sebenarnya“ adalah dengan membaca, menghafal, memahami,
merenungkan dan mengamalkannya, sebagaimana penjelasan (tafsir) dari para
sahabat dan tabi’in.

Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu berkata,

كان الرجلُ منا إذا تعلَّم عشرَ
آياتٍ لم يجاوزهن حتى يعرف معانيَهُن والعمل بهن

“Dulu,
orang-orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat (dari Al-Qur’an),
tidak akan berpindah (ke ayat yang lainnya) sampai dia memahami makna dan mengamalkannya.”
 (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 23482)

Membaca
Al-Qur’an tanpa memahami makna dan mengamalkan isi kandungannya, tidaklah
dianggap “membaca” dengan sebenarnya. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh
rahimahullahu Ta’ala berkata,

إنما نزل القرآن ليعمل به، فاتخذ
الناس قراءته عملا

“Al-Qur’an
itu diturunkan semata-mata untuk diamalkan. Sedangkan manusia menyangka dengan
cukup membaca Al-Qur’an, mereka telah mengamalkannya.”
 (Diriwayatkan oleh Al-Aajuri dalam Akhlaq hamalatul Qur’an,
hal. 41)

Jika Allah
Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan (memberikan taufik agar dapat) membaca,
merenungkan makna, dan memaksa jiwa dalam mengamalkan al-Quran, niscaya dia
akan meraih kesucian jiwa.

Kaidah keempat: Mencari seseorag sebagai panutan dan teladan

Allah Ta’ala
berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.“
 (QS. Al-Ahzab [33]:
21)

Ibnu Katsir
rahimahullahu Ta’ala berkata,

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ
كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ

“Ayat yang
mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan
beliau.”
 (Tafsir Ibnu Katsir, 11: 133)

Al-Hasan
rahimahullahu Ta’ala berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.”
 Maka
Allah Ta’ala turunkan ayat ini,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ
اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah,
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.”
 (QS. Ali ‘Imran
[3]: 31)

Mengikuti dan
meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti benarnya
kecintaan seseorang kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena mengikuti dan
meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menempuh jalan beragama
beliau yang lurus adalah penyucian jiwa itu sendiri. Dan tidaklah mungkin
seorang bisa mencapai penyucian jiwa tanpa mengikuti ajaran Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Rasulullah ﷺ
mengajarkan kita mensucikan jiwa dengan:

1. Tauhid

2. Beribadah dengan benar.

3. Melarang berbuat maksiat.

4. Berteman dengan orang-orang yang shalih.

5. Menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Gembong-gembong
kesesatan di setiap masa berinovasi dengan menciptakan metode-metode baru lagi
mungkar, dan mengklaim hal itu mampu menyucikan jiwa, menjernihkan hati,
memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, dan klaim-klaim lain dalam perkataan
mereka. Mereka pun memberi wejangan untuk mengasingkan diri dari masyarakat
(jamaah) dan menyendiri di tempat-tempat yang gelap, mengulang-ulang model
dzikir dan kalimat (lafadz) tertentu, dan mereka menyangka hal itu bisa menyucikan,
menjernihkan, memelihara jiwa, dan klaim-klaim lain yang batil (dusta).

Ibnul Qayyim
rahimahullahu Ta’ala berkata,

وتزكية النفوس : أصعب من علاج
الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو
كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب
فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم
لهم والله المستعان

“Menyucikan
jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa
menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan
jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut
pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri
sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan
sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter
hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali
mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan
menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat
untuk meminta pertolongan).”
 (Madaarijus
Saalikiin, 2: 300)

Kaidah kelima: Membersihkan dan menghiasi

Sesungguhnya
hakikat penyucian jiwa adalah diawali dengan membersihkan jiwa (takhliyyah) (تخلية), yaitu membersihkannya dari kotoran, maksiat, dan perbuatan dosa,
setelah itu menghiasinya (tahliyyah)
(تحلية) dengan melakukan berbagai amal ketaatan dan
pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.

Hal ini
sebagaimana firman Allah Ta’ala,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً
تُطَهِّرُهُمْ

“Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.”
 (QS.
At-Taubah [9]: 103)

Dalam firman
Allah Ta’ala (yang artinya) “membersihkan mereka” terdapat isyarat tentang
kedudukan “takhliyyah” dari keburukan, yaitu membersihkan diri dari perbuatan
dosa.

Dalam firman
Allah Ta’ala (yang artinya) “menyucikan mereka” terdapat isyarat tentang
kedudukan “tahliyyah”, yaitu menghiasi diri dengan keutamaan dan kebaikan.

Mendahulukan
“pembersihan” (thath-hiir)
(تطهير) dari “penyucian” (tazkiyyah) (تزكية) pada ayat di atas, layaknya mendahulukan (takhliyyah) sebelum
melakukan tahliyyah.

Oleh karena itu,
menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya agar
melepaskan diri terlebih dahulu dari dosa dan pelanggaran yang dapat merusak
dan menutupi hatinya dari cahaya hidayah dan keimanan. Hal ini sebagaimana
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ
خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ
وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى
تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ
عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]

“Apabila
seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah
titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat,
hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan
titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan dengan
“ar-raan” yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka”.
 (QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)” (HR.
Tirmidzi no. 3334 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wa
At-Tarhiib 2: 268).

Kaidah keenam: Menutup pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari kesucian jiwa,
menjauhkannya dari keutamaan dan menjerumuskannya ke dalam kehinaan

Seorang hamba
memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk menutup pintu yang dapat merusak
dan mengotori jiwanya. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat
suatu permisalan untuk kita yang menjelaskan bahaya masuknya seseorang ke dalam
perkara yang dapat merusak agamanya.

Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا
مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ
مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ
دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا،
وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ
تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ
تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ،
وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى
رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ
اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Allah
memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi
jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu
yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang
halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian
manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh
kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru
yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka
pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celak kamu, jangan
sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk
kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan
batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal
yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah
Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wajalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath
adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang
mukmin.”
 (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 17909)

Al-Hafidz Ibnu
Rajab rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Siapa saja
yang ketika berada di dunia tidak istiqamah di atas jalan agama yang lurus,
sehingga dia membuka pintu-pintu keharaman yang ada di tirai di sebelah kanan
dan kiri jalan tersebut; masuk ke dalamnya, baik hal yang diharamkan itu berupa
syahwat ataupun syubhat; maka dia akan disambar oleh pengait yang terdapat di
sebelah kanan dan kiri ash–Shirath (pada hari kiamat), sesuai dengan kadar
pintu keharaman yang dibukanya ketika di dunia.
”(Majmu’
Rasail Ibnu Rajab, 1: 206)

Berkaitan dengan
hal ini, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ
أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ
خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha mengetahui apa yang mereka
perbuat.”
 (QS. An-Nuur [24]: 30)

Abu Hayyan
Al-Andalusi rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Menundukkan
pandangan itu lebih didahulukan daripada menjaga kemaluan karena pandangan mata
adalah pos menuju zina, pengantar kekejian, dan musibah di dalamnya itu lebih
parah dan lebih banyak.”
 (Al-Bahru Al-Muhiith
karya Ibnu Hayyan Al-Andalusi, 8: 33)

Syaikh
‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala,

فإن من حفظ فرجه وبصره، طهر من الخبث
الذي يتدنس به أهل الفواحش، وزكت أعماله، بسبب ترك المحرم، الذي تطمع إليه النفس
وتدعو إليه، فمن ترك شيئا لله، عوضه الله خيرا منه

“Barangsiapa
yang menjaga kemaluan dan penglihatan, dirinya akan tersucikan dari berbagai
kotoran yang menodai pelaku kemaksiatan; amalnya murni karena meninggalkan
keharaman yang menjadi kecondongan dan keinginan jiwa manusia. Barangsiapa yang
meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah Ta’ala akan mengganti dengan
sesuatu yang lebih baik baginya.”
 (Taisiir
Karimirrahman, hal. 660)

Oleh karena itu,
termasuk di antara tanda kebaikan agama seseorang adalah meninggalkan hal-hal
yang tidak bermanfaat, baik berupa berlebih-lebihan dalam berbicara, memandang
dan yang lainnya.

Ibnul Qayyim
rahimahullahu Ta’ala berkata,

وأكثر المعاصي إنما تولدها من فضول
الكلام والنظر وهما أوسع مداخل الشيطان فإن جارحتيهما لا يملأن ولا يسأمان

“Mayoritas
kemaksiatan semata-mata disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam berbicara
dan memandang. Keduanya adalah pintu masuk setan yang paling luas. Karena mulut
dan mata adalah dua anggota tubuh yang jarang lelah dan bosan.“
 (Badaai’ Al-Fawaaid, 2: 820)

Maka hendaklah
seorang hamba itu berakal lagi cerdas, sehingga dapat memohon kesabaran dan
keselamatan kepada Allah Ta’ala; dan memohon agar Allah Ta’ala menutup jalan
yang dapat mengantarkannya menuju kebinasaan dan kemaksiatan. Agama adalah
harta seseorang yang paling berharga. Menyia-nyiakan, acuh tak acuh terhadap
agama, terkandung kerugian di dunia dan di akhirat. Lebih-lebih di zaman kita,
dimana berbagai fitnah turun menimpa manusia seperti derasnya hujan. Berbagai
pintu syubhat dan syahwat terbuka dengan keberadaan perangkat teknologi
terkini, situs-situs asusila, dan program-program televisi amoral, sehingga banyak
manusia berjalan menuju kesesatan dan berpaling dari hidayah. Kami meminta
keselamatan hanya kepada Allah Ta’ala.

Kaidah ketujuh: Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah Ta’ala

Allah Ta’ala
berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“
 (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ
اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah
mengingat penghancur kenikmatan.” (yaitu, kematian)
 (HR.
Ibnu Majah no. 4258 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 3: 145)

Kematian adalah
pemisah antara negeri dunia dan negeri akhirat, juga pemisah antara waktu
beramal dan waktu pembalasan amal. Juga merupakan batasan yang membedakan
antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Setelah kematian, tidak
ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan. Hal ini
sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي
تُبْتُ الْآنَ

“Dan tidaklah
taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang)
hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia
mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.”
 (QS.
An-Nisa’ [4]: 18)

Kematian itu
pasti akan menemui dan menjumpai kita, tanpa ada keraguan di dalamnya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي
تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Katakanlah,
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian
itu akan menemui kamu.“
 (QS. Al-Jumu’ah [62]:
8)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ
الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja
kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng
yang tinggi lagi kokoh.“
 (QS. An-Nisa’ [4]:
78)

Kaidah kedelapan: Memilih teman dalam bergaul

Allah Ta’ala
berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ
يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ
عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ
أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah
kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami,
serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.“
 (QS. Al-Kahfi [18]: 28)

Syaikh
‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,

ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة
النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا
يحصى

“Dalam ayat
ini terkandung perintah untuk bergaul dengan orang-orang terbaik (pilihan),
bersungguh-sungguh untuk berteman dan bersama dengan mereka, meskipun mereka
miskin. Karena sesungguhnya, terdapat faidah yang tidak terhitung dalam
pergaulan dengan mereka.”
 (Taisiir
Karimirrahman, hal. 547)

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ،
فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang
itu sesuai dengan agama sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang
menjadi sahabat kalian.”
 (HR. Abu Dawud no.
4833. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2: 634)

Abu Sulaiman
Al-Khithabi rahimahullahu Ta’ala berkata, “Makna dari ‘Seseorang itu sesuai
dengan agama sahabatnya’ adalah janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang
yang bagus agamanya dan memiliki sifat amanah. Karena jika engkau bergaul
dengannya, engkau akan meneladaninya dalam agama dan pemikirannya
(pendapatnya). Janganlah engkau tertipu dengan agamamu dan janganlah engkau
mempertaruhkan dirimu, sehingga engkau bergaul dengan orang yang cuek dengan
agama dan rusak pemikirannya.” (Al-‘Uzlah, hal. 56)

Oleh karena itu,
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اعتبروا الناس بأخدانهم، فإن المرء
لايخادن إلا من يعجبه

“Nilailah
manusia dengan sahabat dekatnya. Karena seseorang tidaklah bersahabat kecuali
dengan orang yang dikaguminya.“
 (Diriwayatkan
oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah Al-Kubra no. 376)

Kaidah kesembilan: Waspada dari sikap ujub dan tertipu dengan diri sendiri

Sebagaimana
firman Allah Ta’ala,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ
أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang
orang yang bertakwa.“
 (QS. An-Najm [53]: 32)

Allah Ta’ala
melarang memuji diri sendiri dengan sesuatu yang menunjukkan jiwa ini baik dan
bersih. Karena ketakwaan itu letaknya di hati. Sedangkan Allah Ta’ala lebih
mengetahui siapa yang mencapai ketakwaan. Dan juga, memuji diri sendiri itu
adalah sebab masuknya ‘ujub dan sebab munculnya riya’ yang akan menghapuskan
amal.

Seorang mukmin,
bagaimana pun dia bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dan menjauhi hal-hal
yang diharamkan, dia akan tetap memiliki kekurangan dan menzalimi diri sendiri.
Ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, pribadi yang paling
jujur dalam keimanan di umat ini dan manusia terbaik setelah Nabi, bertanya
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkannya doa ketika
salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengajarkannya untuk berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي
ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي
مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah,
sesungguhnya aku menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Tidak
ada yang mengampuni dosaku kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari
sisi-Mu. Rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.”
 (HR. Bukhari no. 834 dan
Muslim no. 2705)

‘Abdullah
bin Abu Mulaikah rahimahullahu Ta’ala berkata,

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ
أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ
النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku berjumpa
dengan lebih dari tiga puluh orang shahabat, dan mereka semua takut kemunafikan
ada dalam diri mereka.”
 [Diriwayatkan oleh
Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dengan shigat jazm (ungkapan tegas)
sebelum nomor 834]

Kaidah
kesepuluh: Mengenali hakikat jiwa

Di antara
keharusan dalam menyucikan jiwa adalah mengenali hakikat jiwa ini, mengetahui
sifat-sifatnya, sehingga mudah untuk melindungi, menjaga, dan mengobatinya dari
penyakit yang masuk ke dalamnya.

Allah Ta’ala
telah mendeskripsikan jiwa manusia dalam Alquran Al-Karim dengan tiga sifat
yang telah umum dan diketahui. Sifat-sifat ini kembali kepada keadaan jiwa.
Ketiga sifat jiwa tersebut adalah:

An-Nafs
Al-Muthma’innah, yaitu jiwa yang mantap dengan keimanan, mengingat Allah
Ta’ala, beribadah dan selalu kembali kepada Allah Ta’ala, sebagaimana
firman-Nya,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ
قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
 (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ
الْمُطْمَئِنَّةُ ؛ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ؛ فَادْخُلِي
فِي عِبَادِي؛ وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa
yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam kumpulan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”
 (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

An-Nafs
Al-Lawwaamah, yaitu jiwa yang mencela pemiliknya karena melakukan dosa
(kesalahan), meremehkan kewajiban atau ketaatan, sebagaimana firman Allah
Ta’ala,

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ
اللَّوَّامَةِ

“Dan Aku
bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”
 (QS. Al-Qiyamah [75]: 2)

An-Nafs
Al-Ammaarah bis Suu’, yaitu jiwa yang mendorong pemiliknya untuk mengerjakan
hal yang haram; melakukan dosa; menuntunnya menuju tempat-tempat yang mungkar
dan hina; serta memotivasinya untuk melakukan hal-hal yang jelek dan hina,
sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ
النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

“Dan Aku
tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
 (QS. Yusuf [12]: 53)

Ketiga sifat
jiwa ini pada dasarnya adalah kondisi-kondisi yang berkaitan dengan jiwa. Oleh
karena itu, kondisi-kondisi ini bisa berubah-ubah sesuai dengan apa yang
dialami oleh jiwa