Kehadiran kita di majelis ilmu merupakan hidayah dari Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Qashash ayat 56, bahwa Allah-lah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.
Perubahan besar dalam diri manusia dapat dimulai melalui edukasi, pemahaman terhadap Al-Qur’an, dan tuntunan sunnah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan empat keutamaan majelis ilmu:
Mendapatkan sakinah — ketenangan yang menjadi sebab bertambahnya iman, sebagaimana QS. Al-Fath ayat 4.
Mendapatkan rahmat Allah — amal seseorang bukan satu-satunya sebab masuk surga, tetapi semuanya terjadi dengan karunia dan rahmat Allah SWT.
Dikelilingi para malaikat — kehadiran mereka menunjukkan kemuliaan majelis yang digunakan untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an serta ilmu agama.
Disebut oleh Allah SWT — sebuah kemuliaan besar karena Allah menyebut orang-orang yang hadir dalam majelis ilmu di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.
Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه pernah berkata:
“Mari kita duduk bersama, kita beriman sesaat.”
Majelis ilmu menjadi kesempatan untuk mengingat Allah, mempelajari Al-Qur’an dan hadis, serta memperkuat iman di tengah singkatnya kehidupan dunia.
Mengingat Singkatnya Kehidupan Dunia
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat. Dalam QS. Al-Mu’minun ayat 112–114, Allah menggambarkan bahwa manusia kelak akan merasa seolah-olah hanya tinggal di dunia selama sehari atau sebagian dari sehari.
Dalam waktu yang singkat tersebut, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas empat perkara:
1.Umurnya, untuk apa dihabiskan.
2.Ilmunya, apa yang telah diamalkan.
3.Hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
4.Tubuhnya, untuk apa digunakan.
Karena itu, waktu yang kita miliki hendaknya digunakan untuk memperbanyak amal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Keutamaan dan Memakmurkan Masjid
Masjid memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Allah SWT menyandarkan kata “masjid” kepada-Nya sebagai bentuk pengagungan dan pemuliaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya.”
(HR. Muslim)
Beliau ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan baginya rumah yang semisal dengannya di surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah:
“Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Memakmurkan masjid tidak hanya berarti membangun secara fisik, tetapi juga menghidupkan fungsi dan ruhnya.
1. Memakmurkan Masjid Secara Maknawi
Memakmurkan secara maknawi berarti mencintai masjid dan menghidupkannya dengan berbagai bentuk ibadah, seperti:
Melaksanakan shalat berjamaah.
Mengadakan majelis ilmu dan kajian.
Membaca serta mengajarkan Al-Qur’an.
Memperbanyak dzikir dan doa.
Melakukan dakwah dan pembinaan umat.
Membina generasi muda agar mencintai masjid.
Menjadikan masjid sebagai pusat pelayanan dan kegiatan sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 18 bahwa yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya takut kepada Allah.
Shalat juga menjadi salah satu amalan utama yang akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan shalat berjamaah, di antaranya shalat Isya berjamaah seperti mendapatkan pahala shalat setengah malam dan shalat Subuh berjamaah seperti mendapatkan pahala shalat sepanjang malam. (HR. Muslim)
2. Memakmurkan Masjid Secara Hissi
Memakmurkan secara hissi berkaitan dengan menjaga masjid secara fisik, seperti:
Membangun dan memperbaiki bangunan masjid.
Menjaga kebersihan dan kerapian.
Menyediakan fasilitas wudhu dan toilet yang baik.
Merawat karpet, lampu, sound system, serta fasilitas lainnya.
Menjaga keamanan dan kenyamanan jamaah.
Dalam hal ini, marbot memiliki peran penting karena membantu mempersiapkan fasilitas agar ibadah jamaah dapat terlaksana dengan baik.
Kisah Ummu Mihjan, seorang wanita yang biasa membersihkan masjid, juga menunjukkan betapa mulianya amalan tersebut. Ketika beliau wafat, Rasulullah ﷺ menanyakan tentangnya dan kemudian mendatangi serta menshalatkan kuburnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga kebersihan masjid bukan hanya tugas marbot, tetapi juga tanggung jawab seluruh jamaah. Ketika kita membantu menjaga masjid tetap bersih dan nyaman, kita turut mendukung terlaksananya ibadah di dalamnya.
Penutup
Mari kita manfaatkan waktu yang singkat di dunia dengan memperbanyak amal, menghadiri majelis ilmu, menjaga shalat, dan memakmurkan masjid.
Semoga kita, keluarga, dan anak keturunan kita senantiasa memiliki hati yang terpaut dengan masjid serta menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai dan memakmurkannya.
Aamiin.